Najmu Tsaqib

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Semoga kita semua dalam lindungan, ampunan dan bimbingan Allah SWT. Limpahan shalawat serta salam kita haturkan pada junjungan kita nabi Muhammad SAW, pribadi yang telah memberikan tauladan dan kita selalu berharap memperoleh syafaatnya kelak di akhirat. Aamiin. Besar harapan  Pak kyai M. Muchtar Mu’thi Mursyid Thariqah Shiddiqiyyah dalam keadaan bahagia, sehat dan tentram. Surat ini sengaja kutulis karena mencintai, menghormati dan ingin mengingatkan. Bukan karena ada yang salah tapi ada banyak hal yang sebaiknya penting untuk didengar, diingat dan dipertimbangkan. Ijinkan sebelumnya aku minta maaf kalau kalimat-kalimat dalam suratku ini terlalu lancang dan berlebihan menurutmu.

Kutulis surat ini setelah gelisah melihat sikapmu yang akhir-akhir ini mudah untuk mengutuk dan menuduh orang lain berbuat fitnah, seolah kamu menuduh tanpa memikirkan apakah tuduhanmu itu bisa mencelakakan orang lain atau nanti bakal membuatmu menyesal di kemudian hari. Di channel youtube kulihat ceramahmu yang indah dan tegas, kadang penuh dengan sindiran. Katamu “benar harus dikatakan sebagai benar, salah harus dikatakan sebagai salah, apapun resikonya.” Tapi kulihat dalam kenyataan, rasanya omonganmu itu tidak sama dengan sikapmu. Aku bingung mana yang harus aku patuhi, sikapmu apa omonganmu, atau tidak perlu kupatuhi dua-duanya.

Pada tahun 2017. Ingatkah kamu dengan dua kawan perempuanku yang pagi-pagi memberanikan diri melapor sebagai korban kekerasan seksual oleh anak kesayanganmu: M. Subchi Azal Tsani (MSAT)? Tampak waktu itu kamu kaget, matamu melotot, suaramu tinggi, hingga dua kawanku ketakutan dan tak bisa melupakan bagaimana suara dan matamu merespons. Kamu bilang “ojo ngomong sopo-sopo, sing iso nyelesekno kasus iki mung aku.” Kemudian kamu menyuruh dua kawanku untuk menulis kronologi dengan sangat detail soal tindak kekerasan itu.  Saat kronologi sudah ditulis justru tulisan itu diambil oleh MSAT kesayanganmu. Kemudian MSAT memotret surat itu dan menyebarkan kronologi tersebut, sambil berkata bahwa ia sedang difitnah dengan tuduhan melakukan tindak kekerasan seksual yang tujuannya untuk menghancurkan pesantren. Pada waktu yang sama dua kawanku yang melaporkan kepadamu langsung dituduh oleh jamaahmu sebagai perempuan penggoda yang tak cantik rupanya, sambil menimpali mustahil MSAT tertarik dengan perempuan seperti itu. Parahnya kamu juga ikut-ikutan menuduh bahwa kedua kawanku akan menghancurkan pesantren, sehingga semakin menguatkan keyakinan jamaahmu untuk turut menuduh. kawanku berharap bahwa kamu bisa bersikap adil tapi pada kenyataannya kamu memang tidak bisa bersikap adil. Kamu menutup rapat-rapat kasus kekerasan seksual itu tanpa memberi sanksi apapun kepada anak kesayanganmu. Barangkali memang benar bahwa kamu tidak ingin pesantren yang kamu bangun puluhan tahun itu tercemar, tapi pilihanmu untuk menutupi dan justru memutarbalikan fakta adalah sebuah hal yang amat aniaya yang dilakukan oleh seorang mursyid thariqah sepertimu. Lebih dari itu rasanya kamu memang sudah tidak punya rasa kemanusiaan, meskipun kamu keliling Indonesia memberikan ceramah soal kemanusiaan.

Setahun berlalu. Di setiap ceramahmu ku dengar kamu selalu mengulang-ulang menuduh korban sebagai anggota PKI, HTI, ISIS dan berbagai hal yang tak pernah mereka lakukan. Hal tersebut semakin meyakinkan bahwa kamu memang tidak bisa bersikap adil. Rasanya kamu tak bisa merasakan, bagaimana kawanku merasa lebih baik dibunuh daripada difitnah melulu. Siapa saja yang berkawan kawan-kawanku pun kamu musuhi dan perekonomiannya kamu recoki, supaya mereka sekarat tidak bisa makan beserta keluarganya. Tak hanya itu ketika kerabat mereka terkena musibah seperti kecelakaan atau meninggal dunia, dengan lantangnya kamu menertawakan dan meneriakkan bersama jamaahmu bahwa mereka terkena adzab, karena kualat sudah berbuat fitnah, melawan ajaranmu dan sambil berbangga diri bahwa Allah telah mengabulkan doa burukmu. Rasanya memang benar bahwa kamu senang jika orang lain celaka, terutama jika yang celaka adalah para korban kebejatan anakmu. Astaghfirullahalazim.

Melihat sikapmu yang seperti itu, membuat salah satu korban yang lain memilih tidak melaporkan kepadamu, karena tidak ada keadilan yang bisa diharapkan darimu, istri-istrimu maupun lembaga yang ada pesantrenmu. korban lebih memilih melaporkan kekerasan seksual yang terjadi kepada Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kepolisian Resort Jombang. Dengan terbatas pengetahuan dan pengalaman ia memberanikan diri melawan raksasa sendirian, tanpa disuruh apalagi didukung oleh istrimu yang sekarang kamu beri nama Jin Tomang, lembaga swadaya masyarakat dan berbagai ormas lain seperti yang kamu tuduhkan. Aku tidak tahu kenapa kamu gampang menuduh tanpa bertabayun terlebih dahulu. Apa yang dilaporkan korban adalah murni niat baik dan bentuk cinta kasih supaya tidak ada lagi santri yang menjadi korban kekerasan seksual oleh anakmu, terlebih terjadi di lembaga pendidikan pesantren yang telah kamu dirikan itu. Semestinya kamu harus berterima kasih pada korban yang sudah memberi peringatan kepadamu, bukan malah memfitnah dan menuduh dengan berbagai hal yang tidak pernah mereka lakukan. Setelah korban melaporkan kasusnya justru kamu malah menyuruh anak buahmu untuk melakukan intimidasi, mendatangkan para ahli hukum untuk bisa membodohi keluarganya, memaksa korban untuk mencabut laporan, hingga memberikan iming-iming ganti rugi uang ratusan juta, rumah mewah dan lain sebagainya. Setelah laporan dicabut, justru kamu tidak memberikan harta  sesuai perjanjian. Rasanya kamu memang tak beda dengan seorang penipu, hanya saja kamu menipu dengan membawa embel-embel ayat agama.

Ibarat pepatah: patah tumbuh hilang berganti, setelah korban satu mencabut laporan karena ditekan anak buahmu, ada korban-korban yang lain yang melapor, kasusnya di proses oleh kepolisian, anakmu ditetapkan sebagai tersangka, para korban mendapatkan banyak solidaritas dan dukungan baik dari individu maupun lembaga, hingga anakmu sekarang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Kepolisian Daerah Jawa Timur, karena selalu mangkir saat dapat surat panggilan. Sebagai bapak kamu berhasil menjadi support system yang baik bagi anakmu, anakmu melakukan praperadilan dua kali berharap status tersangkanya dicabut, kamu pun mendukung dengan meminta bantuan jamaahmu berdoa agar Allah bisa membatalkan status tersangka dan DPO anakmu. Seolah kamu lupa bahwa Allah itu maha tahu tanpa diberi tahu olehmu, dan Allah itu maha benar akan menunjukkan jalan kebenarannya. Sementara kamu terus mengulang-ulang mengatakan bahwa kasus yang dilaporkan adalah kasus rekayasa.  Banyak media yang memberitakan dan kamu katakan “ngedabrus”,  kemudian jamaahmu juga turut mengikuti mengucapkan kalimat “ngedabrus” dimana pun mereka berada. Jamaahmu tak ubahnya seperti semut yang berbaris tak tahu arah, benar atau salah jamaahmu sudah tidak bisa membedakan, segala yang kamu sampaikan diikuti. Lebih parah lagi, kamu juga menyuruh jamaahmu untuk menghadang pihak kepolisian agar tidak menangkap paksa anakmu. Mereka seolah-olah berjuang di jalan Allah mengikuti seruanmu, padahal mereka sejatinya sedang tersesat, sedang membela anakmu yang menjadi pelaku kekerasan seksual oleh banyak santrimu. Kulihat juga rumahmu sekarang dibangun pagar besi yang tinggi, dijaga rapat ribuan jamaah dari berbagai daerah. Tapi aku tahu serapat-rapatnya pagar besi itu dibuat, dijaga ribuan penjaga sekalipun, cepat atau lambat anak kesayanganmu pasti akan ditangkap dan diadili juga.

Jujur saja. Aku bersedih melihat sikapmu yang seperti itu, selama ini aku anggap kamu sebagai orang tua yang bijaksana karena banyak pengetahuan dan pengalaman, baik secara moral maupun spiritual. Puluhan tahun aku harus mendengar dan taat dengan pandanganmu sebagai mursyid thariqah, saat kamu kutip penggalan ayat dalam Al-quran aku tak mudah untuk bisa membantah. Saat kamu menjelaskan soal hadist nabi aku juga tak gampang untuk mendebat. Padahal aku dan kamu tak ada bedanya, kita di sini sama-sama manusia ciptaan Allah, hanya saja kamu lebih dulu belajar itu saja dan beda selisih usia, barangkali ilmumu juga tak jauh-jauh amat dengan ilmu yang aku ketahui, tapi diatas sebuah organisasi yang kokoh, yang katanya beranggotakan 7 juta pasang mata dari berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara, di situ dapat dilihat aku berada pada posisi yang bukan siapa-siapa. Jika kamu duduk sebagai pimpinan Ormas agama ataupun mursyid thariqah, tentu aku tak bisa menyanggah. Tiap sanggahan, aku bukan hanya dianggap mempertanyakan apa yang kamu sampaikan, melainkan juga bisa dianggap menghina organisasi agama yang kamu pimpin. Sudah banyak contoh nasib mereka yang jadi korban karena perbedaan pandangan denganmu. Mulai dari pemukulan fisik hingga fatwa mati bisa kamu dialamatkan. Akupun beberapa kali pernah mendapat fatwa mati darimu, tapi aku bersyukur aku masih bisa hidup dan masih bisa menuliskan surat ini. Aku sadar diri orang lebih percaya omonganmu daripada omonganku. Maka aku putuskan untuk duduk berdiam diri, menyabarkan diri dulu, menunggu waktu yang tepat untuk bisa mengirimkan surat dan menasehatimu. Maka pada bulan Rajab 1443 H ini bagiku adalah waktu yang tepat untuk memberi pandangan ganti, barangkali saja pandangan ini bisa kamu jadikan sebagai alat untuk muhasabah di hari ulang tahun Shiddiqiyyah. Satu pandangan yang bermula dari kekecewaanku melihat sikapmu, gelojak jamaahmu dan bacaanku atas petuah nabi Muhammad sosok yang kita idolakan bersama.

Aku berharap tulisan ini bisa kamu baca, atau setidaknya ada yang mau membacakan surat ini untukmu, aku dengar untuk bisa mengirimkan surat untukmu itu tidak mudah, aku dengar ada yang mengirim surat, kemudian dikembalikan dengan pesan “surat ditolak kepala satpam pondok”. Maka surat ini sengaja ku buat terbuka, semoga saja bisa sampai kepadamu, kamu bisa baca saja atau kamu bantah surat ini tak mengapa, karena hidup berpayung demokrasi bisa membuat tiap orang punya pandangan yang berbeda-beda. Tapi jika bersangkutan dengan tauladan hidup, sepertinya kita tidak bisa bantah-bantahan. Aku tahu, kamu dan aku sama-sama mengidolakan Nabi Muhammad. Sosok yang jujur dan mulia. Panutan kita semua. Dalam hadist nabi beliau bersabda “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menzalimi dan tidak boleh juga membiarkannya terzalimi.” Harusnya kamu sudah tahu bahwa secara teologis, tindakan kekerasan seksual yang dilakukan anakmu itu melanggar visi Islam rahmatan lil alamin, misi akhlakul karimah, kaidah syari’ah yang menegaskan kemaslahatan umat, dan ajaran-ajaran mengenai kebaikan perilaku, kenyamanan hidup dan lain sebagainya. Selain itu Nabi juga pernah bersabda “Sudah cukup seseorang dianggap buruk ketika sudah melecehkan saudara muslimnya sendiri. Sesama muslim itu diharamkan mengganggu darahnya, hartanya, dan kehormatannya”.  Semestinya kamu sudah tahu juga bahwa kekerasan seksual adalah pelanggaran serius terhadap martabat dan kehormatan kemanusiaan sebagaimana ditegaskan dalam hadits tersebut. Dalam Islam sendiri, tindakan-tindakan seksual hanya boleh dilakukan antara laki-laki dan perempuan dalam hubungan perkawinan yang sah, saling ridha, tidak dipaksa, tidak dalam manipulasi dan saling memberikan kenyamanan satu sama lain. Kekerasan seksual, tentu saja, bertentangan dengan prinsip-prinsip martabat kemanusiaan dan pernikahan yang dianjurkan dalam Islam yang sama-sama kita pegang teguh ini.

Aku tahu kamu cinta tanah air Indonesia banyak membangun monumen kebangsaan dan memperingati hari besar kebangsaan dengan seremonial yang mewah, tak hanya itu kamu juga gemar menyantuni fakir miskin dan anak yatim, meskipun setelah itu banyak kau ungkit-ungkit seberapa banyak yang sudah kau berikan di depan banyak orang, kadang kamu juga membayar pekerjamu dengan upah murah jauh dibawah upah minimum regional, kadang juga kamu tak membayar kerja keras para pekerja alih-alih dapat barokah darimu. Makanya aku kadang meragukan kemanusiaan dibalik gembar gembor cinta tanah airmu. Tapi diluar semua itu, aku ingin mengingatkanmu kembali, jika memang kamu sungguh cinta tanah air, sebagai warga negara yang baik dan pimpinan thariqat yang punya jutaan jamaah. Harusnya kamu ingat pesan Nabi Muhammad. Nabi Muhammad Saw meminta kita semua untuk menolong orang yang zalim, seperti pelaku kekerasan seksual, dengan cara menahannya agar tidak menjadi pelaku berulang kali dan insyaf atas perbuatannya, dan menolong orang yang dizalimi, seperti korban kekerasan seksual, dengan cara melindunginya agar korban berani mengungkapkan kebenaran kasus yang dialaminya, menggugat rasa keadilan, atau mendampingi dan memulihkan kondisi psikisnya ketika menjadi korban.

Nah, Inilah waktu yang tepat untukmu menolong anakmu agar tidak mengulangi kesalahannya melakukan kekerasan seksual dan supaya kamu tidak menanggung dosa yang lebih besar lagi karena memanipulasi jamaahmu. Bicaralah yang jujur, akui semua kenyataan yang ada. Antarkan anakmu ke pihak yang berwajib. Patuhi proses hukum yang sudah disepakati di tanah air yang kita cintai bersama ini. Aku tahu untuk bisa jujur saat ini itu sakit, ada banyak yang harus dikorbankan dan direlakan, tapi aku percaya bersikap jujur itu lebih baik.

Terakhir, aku ingin mengingatkanmu bahwa tidak ada yang lebih islami dari keadilan, kekerasan tetaplah kekerasan siapapun pelakunya, mendukung kerukunan bukan berarti harus mendiamkan dan menutupi adanya ketidakadilan. Semoga surat ini bisa membuka hatimu dan hatiku, semoga surat ini bisa mengingatkan aku dan mengingatkanmu. Semoga Allah menuntunku dan menuntunmu.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

14 COMMENTS

  1. Tayang di bioskop kapan nih, misal belum ada judulnya mau kasih saran, “Kunti bernyanyi” rating pasti naik tuh, sampe melayang 😂

  2. Bikin cerpen apa novel, sayangnya km gk masuk jadi penulis. Ceritamu mengandung kebohongan yang kau buat apa hidupmu penuh kepalsuan Dan kebohongan. Saranku bertobatlah sebelum ajal menjemputmu#salamsatunyaliwani

  3. Innalillahi wainnalillahi rojiun

    Menurut imam Ghozali.
    Melihat lebih baik dari Pada Mendengar.

    Lidah yang lepas dan hati yang tertutup dan penuh dengan kelalaian itu alamat kemalangan besar.

    Astagfirlloh.

  4. apapun ini itu saya sebagai saksi di pesantren th 2017 sebgai ARSA. ini ada pihak ke-3 polisi harus usut tuntas dari ujung hingga akar2nya !!! siapa itu pihak ke-3 !!!! kenapa ada pihak ke 3 ??? siapa pihak ke 3 ??? darimana pihak ke 3 ??? apatujuan pihak ke3 ???

    ini permasalahan internal semua masyarakat wajib tahu..

  5. Tulisan di atas serasa di landasi dgn amarah penulisnya yg sangat tinggi..jd sangat di ragukan obyektivitasnya. Aroma fitnah terasa banget..

  6. Atas Berkat Rochmat Alloh Yang Maha Kuasa

    SURAT BALASAN DARI SEORANG MURID SHIDDIQIYYAH

    Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Sebagai manusia, syukur Alchamdulillah kami ucapkan atas kehadirot Alloh SWT, dan sebagai ummat Islam, syukur alchamdulillah kami ucapkan atas kehadirot Nabi Besar Muhammad SAW.
    Surat ini ditulis sebagai balasan dari sebuah surat oleh Najmu Tsaqiib yang ditujukan untuk Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Muchtarulloh Al Mujtabaa yang juga sekaligus Guru Besar kami di Pesantren MBHWMI Shiddiqiyyah. Sebelumnya kami juga mau menyatakan bahwa kami sebagai murid Shiddiqiyyah memang sama sekali tidak berhak untuk menjawab dengan mengatasnamakan guru besar kami, pun kami juga tak sedikitpun memiliki niat demikian. Surat ini juga tidak berniat untuk mengatasnamakan seluruh murid Shiddiqiyyah yang anda sebut ada 7 juta kepala di seluruh Indonesia. Ini murni pribadi, tetapi karena berbagai alasan yang juga anda pakai sebagai landasan, kami tak akan menyebut nama kami dalam surat ini.

    Surat ini terlahir sebagai suara kecil yang ingin didengar, karena merasa ada banyak hal yang tidak pas yang dikemukakan oleh Sdr/i Najmu Tsaqib dalam suratnya yang berjudul “Surat Untuk Kyai M. Muchtar Mu’thi (Mursyid Thariqah Shiddiqiyyah)”.

    Memiliki suara atau aspirasi yang ingin didengar oleh pimpinan umat beragama yang besar memang pernah dialami oleh seseorang paling tidak sekali dalam hidupnya. Disitu anda menyatakan bahwa anda berharap surat tersebut dibaca atau paling tidak dibacakan oleh seseorang kepada Sang Guru. Tenang saja, kami bisa memastikan, meskipun surat anda itu hanya tertulis di selembar kertas dan anda buang ke samudra yang luas tanpa ada seorangpun yang mengetahui keberadaannya, Bpk Kyai Muchtar Mu’thi akan tetap mengetahuinya. Dan balasan dari beliau akan datang kepada anda tidak melalui surat ini ataupun surat lain seperti yang anda tulis, tetapi melalui hal lain. Hal lain seperti apa itu, wallahu a’lam.

    Surat ini mungkin atau tidak mungkin dibaca oleh anda, karena kami tidak pernah mengetahui siapa anda sebenarnya, ataukah nama Najmu Tsaqiib yang anda tulis di awal surat adalah nama anda sesungguhnya. Maka dari itulah kami unggah surat ini ke dunia maya, dengan harapan pesan ini sampai pada anda dan juga menjadi pelajaran bagi siapapun yang membacanya. Karena kami yakin anda tidak seperti Sang Guru yang bisa mengetahui isi surat yang ditujukan padanya sebelum amplop tersebut dibuka.

    Sdr/i Najmu Tsaqiib, anda memulai surat dengan menyatakan bahwa anda mencintai dan menghormati Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah. Bahkan anda menyatakan bahwa anda pernah menjadi bagian dari Pesantren Shiddiqiyyah. Mengenai hal tersebut kami mengapresiasinya, meskipun tak semua yang anda paparkan dalam surat tersebut mencerminkan bahwa anda mencintai dan menghormati beliau, seandainya memang ada rasa cinta dan hormat dalam hati anda pada beliau. Jika saja dalam satu dan lain hal anda tidak pernah menyinggung Thoriqoh Shiddiqiyyah ataupun anda tidak pernah mengunggah surat tersebut untuk dibaca oleh khalayak umum, tak akan terlahir surat balasan ini. Ketahuilah, surat ini bukan bentuk kemarahan kami, tetapi bentuk keresahan kami sebagai murid Shiddiqiyyah yang merasa tidak adil dengan semua hal yang anda ungkapkan.

    Dalam surat tersebut anda menceritakan semua yang terjadi pada tahun 2017 seolah-olah anda melihat dan mengalaminya sendiri. Anda berkata atas nama “dua kawan perempuanku”, dan anda tuliskan semua kejadian yang dua kawan perempuan anda ceritakan seolah anda berada di ruangan yang sama saat semua kejadian itu berlangsung. Kami pribadi tidak mengerti kenapa anda merasa sangat percaya diri bahwa semua itu benar, padahal anda tidak ada disana secara langsung dan hanya mendengarnya saja.

    Pada tahun 2017, apakah anda disana ketika seorang ibu yang tinggal di sebelah timur rumah keluarga Sang Guru, ditemani anak-anak dari ibu itu, menemui kawan perempuan anda itu dan memaksanya, dengan penuh tekanan, untuk menuliskan suatu kejadian yang serba dibuat-buat dan dilebih-lebihkan? Kemudian setelah itu apakah anda juga ada disana ketika ibu itu mempertemukan kawan perempuan anda itu dengan Sang Guru dan menceritakan kejadian karangan itu dengan pikiran bahwa beliau adalah seorang yang bisa dibohongi dan ditipu dengan mudah dengan air mata buaya kawan perempuan anda itu? Anda bilang mata beliau melotot dan suaranya meninggi, tapi anda tidak ada disana saat itu jadi anda tidak tahu bahwa beliau menjawab pengakuan buatan dari kawan perempuan anda itu dengan tenang dan tanpa emosi sama sekali, karena beliau sudah mengetahui maksud kawan perempuan anda itu bahkan sebelum ia berkata satu patah kata pun.

    Dan kemudian apakah anda juga ada disana setelahnya, saat putra beliau yang tertuduh itu memanggil kawan perempuan anda ke sebuah tempat untuk ditanya baik-baik mengenai maksud dari laporan palsu yang dibuatnya, bukannya merebut surat yang dibuat-buat oleh kawan perempuan anda dan ibu dari timur itu. Disitu si kawan perempuan anda juga menangis tersedu-sedu dan meminta maaf kepada putra Sang Guru serta menulis ulang sebuah surat pernyataan yang menyatakan bahwa tuduhan tersebut tidak benar adanya. Anda juga tidak tahu bahwa sayangnya pada saat pertemuan itu, hadir juga seorang yang dimaksudkan sebagai saksi, tetapi justru di kemudian hari orang itu tidak bisa lagi dimintai kesaksiannya karena tak diketahui keberadaannya.

    Lalu kawan perempuan anda yang kami kira sudah keluar dengan baik-baik dari pesantren setelah meminta maaf kepada banyak pihak, rupanya masih memiliki keterlibatan dengan ibu dari timur yang kami sebut tadi. Ibu yang menginginkan kehancuran pesantren yang sudah dibangun puluhan tahun oleh Sang Guru dan memanfaatkan kawan perempuan anda itu sebagai pion yang ditunggangi dalam sebuah skenario yang ditulis sejak puluhan tahun lalu, bahkan sebelum kami dan anda lahir di dunia ini. Kita semua tahu dan sudah membaca di berbagai tempat bahwa kami dengan jelas menyatakan itu semua fitnah, tapi kami disini tidak akan membahas lebih jauh mengenai hal itu. Kami tidak tahu apakah anda bagian dari mereka, atau hanya sekedar orang luar yang kebingungan melihat kejadian ini. Terlepas dari siapa anda, rasanya aneh anda menuliskan semua yang ada di surat itu seolah anda benar-benar ada disana dan menyaksikannya sendiri dan bukannya taqlid buta mengenai apa yang sesungguhnya terjadi.

    Anda menyebutkan bahwa Sang Guru meminta bantuan jama’ah untuk berdo’a bersama untuk dapat membatalkan status tersangka dan DPO dari putranya, tetapi apabila memang anda menyimak baik-baik dari video pitutur luhur beliau, sudah jelas tidak pernah sekalipun beliau menghimbau jama’ahnya untuk berdo’a dalam rangka membatalkan status tersangka dan DPO dari putranya. Kami bahkan tak ingin repot-repot menjelaskannya, bila memang anda terlewat silahkan tonton ulang video tersebut sampai anda memahaminya.

    Ya mungkin anda tidak akan percaya dan hanya akan mengatakan bahwa itu semua hanya kedok untuk menyembunyikan niat yang sesungguhnya sembari meneriakkan Alloh Maha Mengetahui. Kalau begitu kami kembalikan, Alloh Maha Mengetahui apa yang tidak diketahui, dan siapa anda bisa menggunakan nama Alloh untuk menerka-nerka sesuatu yang tak tampak oleh mata? Semoga anda dan segala ke-sok-tahuan anda mendapat ampunan dari Alloh SWT.

    Anda ungkapkan dalam surat tersebut bahwa anda juga pernah menempatkan diri sebagai murid Sang Guru. Kami bersyukur anda pernah melewati waktu-waktu menjadi murid seperti kami, tetapi rupanya waktu-waktu yang anda habiskan menjadi murid itu tak membuahkan hasil apapun yang bisa membawa anda ke arah yang lebih baik. Alangkah sayangnya, semua waktu, tenaga, dan materi itu tercurah bila pada akhirnya anda masih menganggap diri anda tak ada bedanya dengan Sang Guru, bahkan menganggap ilmu yang anda miliki tak jauh beda dengan Sang Guru. Kami tak melarang siapapun untuk memiliki anggapan demikian, ini bukan bentuk ancaman, tetapi sekali lagi, semoga anda dan segala kesombongan anda mendapat ampunan dari Alloh SWT.

    Kami juga menyayangkan sikap anda yang menyiratkan seolah-olah anda memiliki baik sejengkal kemampuan untuk mempengaruhi keputusan seorang Mursyid, dan seolah-olah anda meragukan kapasitas seorang Mursyid dalam memimpin. Ya, Mursyid. Anda pernah belajar di Thoriqoh, seharusnya anda tahu apa yang dimaksud dengan jabatan ‘Mursyid’. Beliau sendiri menegaskan, tak seorang pun baik itu para Kholifahnya hingga keluarga nasabnya sekalipun dapat membisikkan pengaruh-pengaruh apapun ke telinga Sang Guru, apalagi orang-orang seperti kami dan anda.

    Tak pernah sekalipun kami mendapati Sang Guru berfatwa secara gamblang supaya kami melindungi putranya dari sentuhan pihak berwajib, kami sadar betul, siapa kami? Kami hanya orang biasa. Kami tak mampu melindungi seorang yang sudah memiliki tingkatan Mursyid maupun keluarganya. Kami sebagai murid dan tentunya sebagai manusia biasa, tentu pernah mengalami kegelisahan dan banyak hal lainnya yang manusiawi. Tapi disini kami lah yang bertindak setelah mencari tahu dan menemukan kebenaran atas inisiatif kami sendiri. Anda menganggap bahwa kami fanatik buta. Ya, kami fanatik, tapi tidak buta. Kami tahu betul dan sadar apa yang kami lakukan bukan sebuah aksi tanpa arah. Seperti yang anda katakan, jumlah kami ada jutaan. Kalau saja, semisalnya saja, Sang Mursyid menghendaki agar semua orang- orang yang mendzoliminya untuk lenyap, maka tak perlu tunggu lama, mereka semua akan lenyap. Baik itu karena kami yang lenyapkan, atau kekuatan lain yang tak terlihat yang melenyapkan. Kekuatan murni, bukan kekuatan santet seperti yang sering dikirimkan oleh mereka melalui onggokan binatang mati kepada kami. Tetapi karena beliau seorang Mursyid, maka tak akan muncul kehendak seperti itu dalam dirinya. Beliau juga memahami, sekecil apapun, kehendak seorang Al Mujtabaa akan menjadi kenyataan.

    Siapapun yang membaca dan mendengar pitutur luhur dari beliau dapat menyalahartikan maksud dari kalimat yang beliau lontarkan. Kami juga sadar betul, hal tersebut karena seringkali banyak yang memelintir pitutur luhur beliau sedemikian rupa, melalui potongan-potongan kalimat dan juga potongan-potongan video yang beredar di dunia maya, tanpa mengetahui konteks kejadian, waktu, dan tempatnya. Sama seperti manusia-manusia yang hidup di zaman ini yang terburu-buru mengartikan ayat-ayat Alloh yang turun pada Nabi Muhammad SAW tanpa mempertimbangkan konteks zaman, sejarah, dan lokasi saat ayat tersebut diturunkan. Kami tidak sedang menyamakan beliau dengan Tuhan, tetapi inilah ironi manusia yang malas mencari tahu segala hal yang berada di balik tabir.

    Anda juga menuduh beliau membayar pekerja dengan upah murah bahkan tak membayar kerja keras para pekerja. Dari mana anda menyimpulkan demikian? Kami pribadi, merasa tak kehilangan ataupun melewatkan apapun selama mengabdi disini. Karena kembali lagi, pesantren bukan korporasi. Disini, yang berniat mengabdi bahkan menolak untuk dibayar karena yang didapat adalah jauh lebih berharga dari materi. Disini, kami belajar menempatkan segala sesuatu sesuai porsi masing-masing. Kami diberi upah lebih dari layak atas suatu pekerjaan dalam perusahaan, tetapi kami rela hanya berbekal sedikit dalam aspek pengabdian. Anda pernah berada disini, tapi kelihatannya anda memang tak berniat untuk mengabdi, apabila anda masih mempertanyakan hal seperti upah ataupun bayaran.

    Kami juga memohon maaf apabila kami lancang, tapi tak perlu lah anda menulis surat dengan kedok mencari keadilan, sedang surat tersebut dipenuhi pernyataan-pernyataan provokatif yang ditujukan untuk menyulut kemarahan publik yang kini bisa saja melihat Sang Guru seperti yang anda tuliskan, atau untuk menyulut kemarahan murid Shiddiqiyyah seperti kami, dan memicu kami bertindak gegabah karena guru kami disebut secara kurang baik oleh anda. Sebagai murid memang akan selalu membela guru, tapi kami juga sadar betul bahwa seorang seperti Sang Guru tidak perlu bantuan dari kami dalam hal pembelaan. Kalau orang Jawa bilang, hal seperti itu ibarat ‘nguyahi segoro’, sebuah tindakan yang percuma. Kami harus membela, tapi sejatinya seorang Mursyid tidak perlu pembelaan di dunia.

    Untuk anda, Sdr/i Najmu Tsaqiib dan semua yang membaca tulisan ini, apabila memang anda sama sekali atau benar-benar tidak tahu apa yang terjadi disini, silahkan datang kesini dan melihat segalanya dari kacamata kami. Tapi itupun, kalau memang masih ada rasa ingin tahu dalam diri anda. Nantinya jika surat ini sampai pada anda dan anda merasa perlu untuk menjawab kembali, silahkan, tetapi kami akan mengakhiri apa yang hendak kami sampaikan disini sebelum ini semua menjadi perdebatan yang tidak berarti. Kami sudah menyampaikan semua yang ingin kami sampaikan, baikpun diterima atau tidak, paling tidak kami memiliki ruang untuk menyuarakan aspirasi dari sisi kami.

    Terakhir kami disini ingin mengatakan, bahwa mudah bagi manusia untuk menyimpulkan sesuatu berdasarkan apa yang manusia itu ketahui, tapi semoga manusia itu sadar bahwa bukan ia yang mendatangkan pengetahuan itu pada dirinya sendiri, melainkan Alloh Sang Maha Pendidik yang memutuskan apakah pantas manusia itu mendapat suatu pendidikan atau tidak. Karena itulah, sebagai manusia, harus menyadari tempatnya sebagai manusia. Manusia harus menggunakan nikmat akal fikir yang sudah diberikan oleh Alloh kepadanya, tetapi pada akhirnya yang menetapkan kefahaman padanya tetaplah Alloh Ta’ala. Semoga Alloh mengampuni kita semua, dan semoga Alloh memberikan kefahaman pada kita setelah kita menggunakan hati dan akal fikir kita sebaik-baiknya untuk menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan.

    Terima kasih atas waktu dan perhatiannya.

    Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

  7. Astaghfirullah miris banget, membaca surat tersebut mengambarkan melawan kekerasan seksual di Shiddiqiyyah ini udah kayak melawan raja Fir’aun, Namrud, Abroha dan raja-raja bengis yang kaya raya di zaman nabi.. Semangat para korban, saksi, pendamping hukum dan semua yang solidaritas, semoga korban segera mendapatkan keadilan.. #sayapercayakorban #pengalamankorbanvalid

  8. Dalam kasus kekerasan seksual kita harus percaya kepada korban dulu, apalagi korban lebih dari satu, pengalaman mereka valid. kalau memang Subchi dan jamaah merasa tidak bersalah nanti bisa dibuktikan di pengadilan, selanjutnya bisa dipulihkan namanya kalau memang nanti diputus oleh hakim bahwa Subchi tidak bersalah, laporan korban tidak cukup bukti ataupun saksi. Hormat kepada korban. Sementara ini saya berdiri bersama korban. 🫂

  9. Respek dan iringan doa untuk siapapun kamu yang menulis pesan beserta para korban

    Seorang kyai atau mursyid atau ulama siapapun yang dianggap alim di era modern ini bukanlah Nabi yang maksum

    Mereka juga perlu diingatkan apabila salah dan sebagai sesama muslim juga perlu saling menasehati

    Tuhan selalu bersama orang-orang yang terdzolimi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here