Mochammad IH

Kasus-kasus kekerasan seksual di lingkungan pesantren (berikutnya disingkat KSLP) tidak sedikit terjadi. Meskipun belum ada data dan penelitian terbaru tentang kasus KSLP, tetapi kasus KSLP eksis dan valid. Sampai awal bulan Mei 2021 saja, media daring mencatat dua kasus KSLP. Dua kasus tersebut masing-masing terjadi di Jombang dan Indramayu. Dua kasus tersebut saya kira, hanyalah puncak gunung es. Mengapa? Karena kultur dan budaya pesantren yang sangat tertutup, sehingga korban enggan untuk melaporkan kasusnya.

Tentunya saya menyadari bahwa keresahan saya tentang kasus KSLP tidak saya memiliki sendiri. Tentunya kawan-kawan santri lain di luar sana juga memiliki keresahan yang sama. Namun seringkali mereka terisolasi dibalik tembok besar pesantren, tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan kasus KSLP di pesantren mereka, bahkan enggan melawan karena sama sekali tidak adanya dukungan. Kawan-kawan santri ini mendidih melihat penindasan dan ketidakadilan di depan mata mereka sendiri, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Organisasi untuk Perjuangan

Untuk melawan kekerasan seksual di lingkungan pesantren, organisasi adalah kebutuhan nyata. Kita tidak dapat tetap terkungkung di hadapan sistem pesantren yang sangat tua, umurnya berabad-abad dan mengakar kuat. Dengan tetap terisolasi, bertindak masing-masing secara sendiri-sendiri, tanpa memahami satu sama lain, tanpa mempersiapkan diri, tanpa mengumpulkan kekuatan bersama dari masing-masing kekuatan rapuh yang terisolasi, berarti menyalahkan diri kita sendiri akan kelemahan, menyia-nyiakan energi kita dalam tindakan kecil yang tidak efektif, dan akhirnya kehilangan kepercayaan dengan cepat dengan tujuan kita dan terjatuh dalam jurang demoralisasi.

Selain itu, organisasi melipatgandakan kekuatan kita sebagi santri, memungkinkan kita untuk mengambil tindakan pencegahan dan untuk mempertahankan diri dari pembalasan dan berubah menjadi solidaritas nyata. Karena itu saya percaya bahwa untuk menghadapi kasus kekerasan seksual ini, perlu diorganisasikan.

Membangun Kelompok Santri Terorganisir

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya di seluruh Indonesia pasti ada kawan-kawan santri yang memiliki keresahan dan kesadaran yang sama terhadap kasus-kasus KSLP. Ini adalah kekuatan potensial yang sering tidak efektif karena tersebarnya kawan-kawan ini. Tentunya membentuk organisasi santri yang melawan KSLP tidak mudah: maka menurut saya pertama-tama perlu ada Kelompok Santri Terorganisir (selanjutnya disingkat KST) dengan beberapa bentuk koordinasi antara satu sama lain.

KST adalah benih dari organisasi santri yang melawan KSLP. Saya pribadi bersedia mendukung kawan-kawan santri yang merasa darah mereka mendidih di hadapan penindasan dan ketidakadilan, kawan-kawan santri yang lelah karena hanya bisa melakukan sedikit hal, kawan-kawan santri yang tidak mampu sama sekali melakukan apapun, maupun kawan-kawan santri yang terisolasi. Saya mengusulkan cara-cara dimana individu dapat membentuk KST:

1) Jumlah orang: Identifikasi orang yang kawan-kawan kenal, yang mungkin tertarik dengan proyek organisasi ini. Bentuk rapat untuk memperdebatkan aturan kelompok, dengan didukung oleh bahan bacaan. Semakin banyak orang semakin baik, tetapi tidak perlu menunda pembentukan kelompok – 3 orang sudah cukup untuk memulai, dengan tujuan bekerja untuk membuat lebih banyak orang untuk masuk.

2) Identitas KST: Dengan kegiatan yang sedang berjalan, KST sudah dapat memiliki nama, bendera dan simbol-simbolnya, sehingga diakui oleh orang lain.

3) Pembagian tugas-tugas dasar: Tugas-tugas internal reguler kelompok dapat dibagi di antara anggota. Ini mencegah sebagian orang terlalu terbebani dengan pekerjaan dan kawan-kawan lain melakukan sedikit pekerjaan organisasi, dan membantu menjaga kelompok lebih horizontal. Berikut adalah beberapa saran untuk membagi tugas dalam kelompok minimal 5 orang (kelompok yang lebih kecil perlu beradaptasi dengan keterbatasan mereka).

a. organisasi: anggota dengan tugas ini bertanggung jawab untuk merekam perjanjian dan keputusan yang dibuat selama rapat, menyampaikannya kepada yang lain, membuat jadwal, mengadakan rapat, mengatur materi internal kelompok;

b. propaganda: anggota tugas ini bertanggung jawab untuk menulis dan menyarankan materi komunikatif dan propaganda, misalnya buletin kelompok, situs web, media sosial, pamflet;

c. keuangan: anggota dengan tugas ini bertanggung jawab untuk bertindak sebagai bendahara kelompok, mengumpulkan iuran keanggotaan, penggalangan dana, dan sebagainya;

d. Humas: anggota dengan tugas ini bertanggung jawab untuk korespondensi, alamat pos, e-mail, berurusan dengan KST lain, kelompok Islam progresif atau gerakan masyarakat sipil;

e. pendidikan politik: anggota dengan tugas ini bertanggung jawab untuk membina pendidikan politik internal kelompok, memutuskan apa yang diperlukan, mengumpulkan materi, mempersiapkan kursus, untuk meningkatkan pendidikan politik anggota kelompok.

Pembagian tugas ini sama sekali tidak kaku. Kawan santri yang bertanggung jawab atas propaganda, misalnya, mengkoordinasikan buletin grup, tetapi tidak ada yang dapat menghentikan orang lain untuk mencari ide, menulis, berkomentar, dll. Hal yang sama berlaku untuk fungsi lain.

4) Pertemuan: penting untuk menjadwalkan pertemuan teratur, karena mereka adalah satu-satunya kesempatan bagi kelompok untuk berdebat dan merencanakan kegiatannya secara kolektif. Pertemuan bisa mingguan atau dua minggu sekali, sebaiknya di tempat yang tetap di mana kelompok bisa menjadi familiar dan di mana tidak akan ada interupsi.

5) Komunikasi kelompok: Sebuah alamat pos harus dibuat untuk korespondensi, dan kelompok tersebut harus membuat alamat e-mail, juga media sosial dan menerbitkan buletin, meskipun hanya berupa lembar berita fotokopi 2 halaman sederhana. Ini adalah awal yang bagus dan memungkinkan kelompok untuk dikenal oleh orang-orang. Hal penting lainnya adalah menulis deklarasi prinsip untuk kelompok.

6) Metode pengambilan keputusan: Konsensus harus selalu dicari, dengan semua orang yang berpartisipasi dalam perdebatan dengan cara yang egaliter. Ketika konsensus tidak dapat dicapai dan subjek menuntut keputusan, voting dipilih dan seluruh kelompok menerima hasilnya. Posisi minoritas dan argumennya harus tetap pada catatan untuk evaluasi selanjutnya.

7) Tugas dasar masing-masing anggota adalah: Fungsi internal (organisasi, keuangan, propaganda, hubungan dan pendidikan politik); terlibat dalam perjuangan melawan KS di sekitar mereka; partisipasi dalam pertemuan kelompok dan kontribusi pada kelompok.

Berkembang dari Kelompok ke Organisasi

Perubahan besar ini bisa terjadi dalam dua cara.

i) Melalui perkembangan dari KST

Di wilayah di mana kawan-kawan santri lain tidak ada yang memiliki kesamaan keresahan dan kesadaran, satu-satunya cara untuk membentuk organisasi adalah melalui perkembangan KST, yang tujuannya selalu bergerak maju.

Kematangan KST dapat dilihat dalam beberapa cara: melalui pertumbuhan numerik anggota (kurang lebih 20 kader aktif), keteraturan, solid dan kepercayaan yang tumbuh di antara anggota, keterlibatan dalam peleburan sosial (akan dijelaskan di bawah), peningkatan pendidikan politik, dll. Jika hal ini terjadi, seluruh KST dapat melangkah lebih jauh, membagi diri menjadi sel (kelompok inti), menciptakan dewan delegasi dari berbagai sel dan memperbesar lingkup aktivitasnya.

Sangat penting bahwa perubahan dari Kelompok Santri Terorganisir menuju Organisasi Santri menjadi langkah nyata ke depan dan bukan hanya keinginan para anggota. Bukan hanya menjadi kelompok dengan nama saja, mungkin hanya membuat nama untuk organisasi atau federasi, adalah propaganda yang menipu, kesukarelaan yang tidak didasarkan pada realitas, mudah ditertawakan.

Walau bagaimanapun, Transisi dari Kelompok Santri Terorganisir ke Organisasi Santri adalah sebuah proses secara otonom. Transisi menyiratkan perbedaan kualitatif dalam proses konstruksi, bukan yang hierarkis.

ii) Dengan berbagai KST datang bersama dan menyatukan diri

Di wilayah di mana dua atau lebih kelompok santri terorganisir eksis, seharusnya mungkin bagi mereka untuk mempertahankan hubungan dengan KST lainnya. Maksud saya wilayah dalam provinsi, yang tidak perlu berada di provinsi yang sama, yang cukup dekat, kelompok yang terletak di sepanjang perbatasan antara 2 provinsi, dll.

Kontak-kontak ini dapat berkembang ke tingkat yang lebih besar atau lebih kecil. Beberapa mungkin menolak proyek ini, yang lain mungkin menunjukkan minat dan pada saat yang sama memiliki keraguan dan kritik. Dengan kelompok yang kedua, dialog harus diunggulkan dan jika mungkin Forum Santri Terorganisir di tingkat provinsi dibentuk untuk menghubungkan kelompok-kelompok ini, mengembangkan agenda kolektif, memperdebatkan proyek dan bekerja untuk persatuan.

Peleburan Sosial

Rasulullah SAW bersabda,

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (H.R. Bukhari).

Bagi para santri menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain adalah sunnah Nabi. Ketika kita melihat kawan sesama santri menjadi korban kekerasan seksual maupun mengalami kesulitan-kesulitan keseharian, maka wajib bagi kita hukumnya untuk menolong mereka.

Seperti yang saya jelaskan di awal tulisan ini, kasus KSLP itu eksis dan valid. KSLP yang dilaporkan oleh media selama ini merupakan puncak gunung es, yang artinya banyak KSLP yang tidak pernah dilaporkan, bahkan berusaha ditutup-tutupi. Tidak adanya payung hukum yang berpihak pada korban juga merupakan faktor tambahan korban-korban kekerasan seksual untuk melapor, sehingga pelaku pun tidak jera untuk melakukan perbuatan keji tersebut.

Dengan situasi dan kondisi tersebut tentunya tidak membuat kita kehilangan kemarahan dan berhenti menuntut keadilan untuk korban. Kita tidak bisa egois untuk menjaga diri kita sendiri saja ketika melihat penderitaan orang lain.

Kegiatan internal kelompok yang saya sebutkan di atas seperti menerbitkan buletin, mempromosikan pertemuan, diskusi dan webinar, memelihara situs internet, menerbitkan buku, dan membuat konten kampanye informasi alternatif di media, dll., adalah penting dan perlu. Tetapi apakah kita telah memberikan perhatian pada jenis aksi yang fundamental: aksi kelompok bersama dalam memperbaiki kehidupan para santri secara umum?

Sebagai santri yang memiliki keresahan dan kesadaran yang sama terhadap kasus KSLP, kita perlu meningkatkan dan mengembangkan aktivitas kita di komunitas pesantren, yang saya sebut dengan Peleburan Sosial. Saya percaya bahwa semua kegiatan kontak, publikasi, pertemuan dan buku akan sangat diperkaya jika terkait dengan kegiatan komunitas pesantren.

Oleh karena itu kami percaya bahwa pada saat ini adalah penting bahwa kita mendiskusikan bagaimana kita sebagai santri yang memiliki keresahan dan kesadaran yang sama terhadap KSLP dapat bekerja dalam komunitas pesantren, hubungan apa yang dapat dibentuk antara santri yang memiliki keresahan dan kesadaran yang sama terhadap KSLP dan gerakan santri secara umum, dan jenis kegiatan apa yang lebih atau kurang menarik, dll. Di atas segalanya, saya percaya bahwa kita yang memiliki keresahan yang sama ini tidak akan membuat perubahan yang berarti, bila kita tidak melibatkan diri dalam komunitas pesantren.

Terlibat dalam Komunitas Pesantren

Semua anggota KST harus bekerja di tengah-tengah persoalan para santri secara umum. Tugas-tugas internal yang sudah disebutkan sebelumnya itu penting, tetapi hal itu tidak cukup dan tidak bisa berfungsi sebagai alasan bagi anggota untuk berhenti melakukan peleburan sosial. Hal ini penting jika kita ingin menghindari beberapa anggota sibuk dengan diri mereka sendiri hanya dengan tugas internal atau tugas yang “lebih baik”, sedang anggota yang lain dengan tugas peleburan sosial, situasi yang dapat menciptakan “birokrat informal”.

Penting bahwa kelompok mengevaluasi kekuatannya sehingga peleburan sosial dapat memberikan hasilnya dan menghindari mengambil lebih tanggung jawab dari yang dapat dikelola. Hal ini perlu untuk membuat prioritas dalam memilih area tempat kita bekerja. Ketika kami mengatakan “prioritas”, kami tidak bermaksud bahwa satu bidang atau lainnya secara alamiah ditakdirkan untuk mencapai perubahan yang lebih baik, namun hanya untuk memusatkan kekuatan kita dalam beberapa pekerjaan yang kita yakini memiliki potensi perubahan yang lebih besar menuju kebaikan.

Disarankan untuk memulai peleburan sosial dengan inisiatif akar rumput di mana kader secara alami terlibat atau di mana kader lebih mudah untuk terlibat.

Beberapa Contoh Front atau Area Tempat Kita Melakukan Peleburan Sosial

Front adalah tempat-tempat di mana kerja kita dibuat menjadi nyata (kongkrit). Karena identitas kita sebagai santri, maka kehadiran para kader KST harus berada di tengah-tengah komunitas pesantren. Artinya para kader KST harus turut serta dalam memecahkan persoalan-persoalan keseharian yang dihadapi para santri.

Persoalan-persoalan keseharian ini mulai dari persoalan di bidang sanitasi dasar, kelayakan tempat tinggal, makanan yang bergizi, kursus-kursus yang berhubungan dengan pelajaran pesantren, kegiatan olahraga, kegiatan budaya, juga persoalan ekonomi, dll. Semua itu akan bergantung pada tuntutan spesifik dari setiap pesantren.

Dalam tulisan ini, saya membatasi diri untuk mendikusikan kerja peleburan sosial secara umum saja, karena tidak mungkin untuk menjelaskan, bahkan secara garis umum, posisi terperinci untuk setiap bidang. Fainsya Allah, akan ada tulisan-tulisan berikutnya yang direncanakan untuk melanjutkan proposal ini.

Realitas dan Realistis

Beberapa hal yang paling penting untuk diingat ketika kawan-kawan melakukan praktek adalah kondisi kawan-kawan dan lingkungan kawan-kawan. Tentunya hasil pemikiran di atas tidak serta merta bisa diterapkan begitu saja secara presisi. Pasti kawan-kawan sekalian menemukan kesulitan atau bahkan tembok besar penghalang. Dalam pengalaman awal kami sendiri di FM (FORMUJERES), kasus KSLP yang kami advokasi berada tepat di depan mata kami sendiri dan pelakunya adalah salah satu dari jajaran orang nomor satu di pesantren kami. Kami difitnah secara besar-besaran dan masuk dalam daftar hitam pesantren sehingga tak mampu untuk melakukan peleburan sosial, bahkan tak bisa sekedar menjalin kontak dengan komunitas pesantren.

Jika beberapa saran di atas tampaknya tidak bisa dipraktekkan di lingkungan kawan-kawan, jangan ragu untuk menerapkannya secara berbeda atau bahkan mengabaikannya. Jika kawan-kawan menemukan kasus yang persis seperti pengalaman kami di atas maka kawan-kawan bisa bergerak diam-diam dalam bawah tanah, sambil pelan-pelan mengumpulkan anggota yang memiliki visi dan misi yang sama. Praksis tidak berarti menempatkan diri dalam bahaya tanpa alasan apa pun; itu berarti memastikan tidak ada orang lain di komunitas pesantren yang dalam bahaya, dan itu dimulai dengan membentuk strategi ke komunitas pesantren.

Hal penting lainnya yang perlu diingat adalah: perubahan tidak akan terjadi dalam semalam. Pelaku-pelaku KSLP mungkin berhasil menghindar dari hukuman negara, dan tidak apa-apa. Komunitas pesantren mungkin masih tidak memiliki simpati terhadap korban, dan itu tidak masalah. Banyak orang, bahkan mereka yang menjadi korban KSLP sekalipun, masih terindoktrinasi ke dalam pola pikir jahiliyyah oleh masyarakat. Otoritas dan hierarki masih tertanam kuat dalam budaya pesantren sehingga kita merasa ada tembok besar yang menghalangi kita mewujudkan pesantren yang aman dari kekerasan seksual. Inilah sebabnya, kita perlu meyakinkan komunitas kita untuk merangkul visi dan misi kita, tidak melalui paksaan, tetapi melalui bujukan lembut, melalui tindakan baik kita — melalui praksis kita.

Intinya, tidak masalah apakah komunitas pesantren kawan-kawan masih belum aman dari kekerasan seksual. Tidak masalah jika ide-ide kawan-kawan tidak diabaikan pada awalnya. Tidak masalah bahwa kawan-kawan mungkin satu-satunya yang memiliki visi dan misi mewujudkan ruang aman di pesantren. Yang benar-benar penting adalah kawan-kawan berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan pesantren yang aman dari kekerasan seksual menjadi kenyataan, untuk komunitas pesantren yang lebih baik, dan lebih bebas. Kawan-kawan harus pintar berstrategi. Kawan-kawan harus berbicara tentang visi dan misi secara eksplisit dalam eufemisme yang tidak terlalu menyinggung. Tetapi selama kawan-kawan mencoba, apakah itu membutuhkan waktu lima menit atau lima dekade, kawan-kawan akan membuat impian menjadi kenyataan. Itu adalah praksis, dan itu adalah sesuatu yang setiap dan kita semua dapat lakukan.

Terahir, jika kawan-kawan telah membaca tulisan ini dan tertarik, tidak masalah jika kawan-kawan bukan santri namun bersimpati pada kasus-kasus KSLP, mari kita berjuang dan mengorganisir bersama. Kawan-kawan tentu saja dapat memainkan peran penting dalam perjuangan dan ada banyak hal yang dapat kawan-kawan sumbangkan! Tabik.[]

Mochammad IH menghabiskan belasan tahun di Pesantren Tradisional lalu berakhir menjadi lumpen. Aktif di Front Santri Melawan Kekerasan Seksual.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here