Parihani Hidayati

Pendidikan di Indonesia memiliki berbagai upaya untuk menciptakan masyarakat yang berilmu pengetahun global, cerdas, cermat, bermartabat, dan patuh kepada Tuhan YME. Salah satu upaya yang dilaksanakan di Indonesia adalah pendirian pesantren untuk menimba ilmu keagamaan yang lebih mendalam sebagai bekal untuk di dunia maupun akhirat. Pendidikan Pesantren pada umumnya diselenggarakan oleh masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Jauh sebelum Indonesia merdeka, pendidikan yang diselenggarakan oleh pesantren sudah lebih dahulu berkembang. Selain menjadi akar budaya bangsa, nilai agama disadari merupakan bagian tidak terpisahkan dalam pendidikan. 

Secara historis, keberadaan pesantren menjadi sangat penting dalam upaya pembangunan masyarakat, terlebih lagi karena pesantren bersumber dari aspirasi masyarakat yang sekaligus mencerminkan kebutuhan masyarakat sesungguhnya akan jenis layanan pendidikan dan layanan lainnya. Pesantren merupakan lembaga yang berbasis masyarakat dan didirikan oleh perseorangan, yayasan, organisasi masyarakat Islam dan/atau masyarakat yang menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt., menyemaikan akhlak mulia, serta memegang teguh ajaran Islam rahmatan lil’alamin yang tercermin dari sikap rendah hati, toleran, keseimbangan, moderat, dan nilai luhur bangsa Indonesia lainnya melalui pendidikan, dakwah Islam, keteladanan, dan pemberdayaan masyarakat dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Oleh karena itu, dalam hal ini pesantren diharapkan dapat menjalankan fungsi pendidikan, fungsi dakwah, dan fungsi pemberdayaan masyarakat yang nantinya akan diperlukan dalam pengaturan untuk memberikan rekognisi, alirmasi, dan fasilitasi kepada pesantren berdasarkan tradisi dan kekhasannya. Ekspektasi masyarakat terhadap pesantren cukup besar, karena terlihat pada orang tua yang ingin memasukkan anaknya ke pesantren agar memiliki budi pekerti, pengetahuann, dan akhlak yang mulia. Bahkan menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan jumlah pesantren di Indonesia pada Triwulan I-2021 sudah sebanyak 31.385 ponpes dengan jumlah santri sekitar 4,29 juta orang. 

Sejalan dengan pemaparan di atas meskipun pesantren lebih dikenal dengan akhlak dan pengetahuan agama santrinya yang baik, bukan berarti santri yang ada di pesantren tidak pernah melakukan tindakan perundungan. Perundungan yang terjadi di Indonesia tidak hanya ditemukan di sekolah formal saja melainkan di sekolah nonformal seperti pesantren juga sering terjadi kasus perundungan. Perundungan merupakan sebuah hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan dalam aksi, menyebabkan seseorang menderita (Susanti, 2006). Selanjutnya, menurut Coloroso, (2007) perundungan merupakan tindakan intimidasi yang dilakukan pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah. Tindakan penindasan ini dapat diartikan sebagai penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau kelompok sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tidak berdaya. Perundungan memiliki beberapa jenis yaitu perundungan fisik, perundungan psikis, perundungan sosial, dan siber perundungan.

Maka dari itu, pada kesempatan lomba menulis esai ini saya akan memberikan opini beserta fakta dan data yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai “Kunci Kesuksesan Belajar di Pesantren adalah Rasa Keamanan dan Kenyamanan Lahir Batin Tanpa Perundungan”. Setidaknya dalam tulisan ini kita dapat mengetahui alasan dan faktor dari perundungan, yang nantinya diharapkan juga dapat membantu para pembaca maupun diri saya pribadi, untuk dapat bersama-sama mewujudkan pesantren yang aman dan nyaman bagi santri tanpa adanya perundungan.

Pembahasan

Maraknya perilaku bullying atau perundungan di sekolah yang terjadi di berbagai negara menjadikannya sebagai permasalahan internasional yang berdampak serius pada kondisi akademik, kesejahteraan psikologis, kesehatan dan keselamatan jiwa pada korban, penonton dan pelaku. Bullying terdiri dari perilaku langsung seperti mengejek, mengancam, mencela, memukul, dan merampas yang dilakukan oleh satu atau lebih siswa kepada korban. Selain itu, bullying juga dapat berupa perilaku tidak langsung, misalnya dengan mengisolasi atau dengan sengaja menjauhkan seseorang yang dianggap berbeda. 

Terjadinya bullying di pondok pesantren ini menjadi hal yang menarik untuk kita tuntaskan bersama-sama karena pondok pesantren sebagai tempat pendidikan agama tetapi demikian bullying menjadi hal biasa yang sering dilakukan para santri senior kepada santri juniornya. Pelaku bullying biasanya memiliki karakter merasa paling hebat. Bagi seseorang yang tidak kuat lagi mengalami bullying, mereka akan mengalami gangguan psikologis (stress). Terkadang, bullying biasanya terjadi atas dasar “Balas dendam” senior karena mereka juga pernah menjadi korban bullying senior sebelum mereka. Akibat dari perilaku tersebut banyak siswa yang merasa terkucil, sehingga ia selalu merasa gelisah dan tidak nyaman dalam menuntut ilmu.

Adapun yang menjadi penyebab utama perilaku bullying di pesantren yaitu faktor individu, keluarga, media massa, teman sebaya dan lingkungan sekolah (pesantren). Tiga tema lainnya, yaitu adaptasi siswa baru, persepsi terhadap perilaku bullying yang dianggap sebagai candaan dan tradisi pesantren, serta bullying sebagai kompensasi mencari hiburan di pesantren karena padatnya aktivitas belajar dan minimnya fasilitas belajar adalah tema baru yang muncul di luar dari tema teoretis.

Akan tetapi, dalam kasus penindasan atau bully sesama santri mungkin hampir tidak dapat dihindari. Karena pada dasarnya bullying merupakan suatu cara untuk membentuk suatu identitas, walaupun dalam bentuk identitas negatif, Santrock (2007, dalam Shidiqi & Suprapti, 2013). Namun, setidaknya hal ini dapat diminimalisir agar santri di pesantren dapat merasakan rasa aman dan nyaman dalam menuntut ilmu. Hal yang paling utama adalah “Sosialisasi” kepada seluruh santri pesantren mengenai dampak fatal dari tindak perundungan yang mengakibatkan gangguan mental seperti depresi, rendah diri, cemas, hilangnya percaya diri, dan sulit tidur nyenyak. Jika sosialisasi itu sudah dilaksanakan dengan baik, maka akan terciptanya para santri yang percaya diri dalam bertindak, memberikan pendapat, dan berprestasi di dalam pesantren dengan rasa aman dan aman lahir bathin.

Kesimpulan:

Kasus perundungan yang sedang marak di Indonesia ini, khususnya di pondok pesantren dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penyebab utama perilaku bullying di pesantren yaitu faktor individu, keluarga, media massa, teman sebaya dan lingkungan sekolah (pesantren). Bahkan terjadinya unsur senioritas pada siswa yang sudah menjadi kakak kelas, sehingga ia dapat semena-mena melakukan tindak perundungan. 

Hal ini tidak dapat dibiarkan bahkan dijadikan tradisi. Tetapi, hal ini harus diminimalisir agar tidak terjadinya tindak perundungan kembali. Hal yang paling utama adalah “Sosialisasi” dampak dari perundungan itu sendiri. Karena hal yang terpenting dalam bidang pendidikan bukan hanya mengetahui pembelajaran formal saja. Tetapi, kita harus mengetahui adab dan etika dalam menghadapi dan memberlakukan sesama manusia. Mungkin saja, mereka (yang melakukan perundungan) belum mengetahui apa saja dampaknya. Maka dari itu, sosialisasi bahaya perundungan adalah salah satu kunci untuk mewujudkan lingkungan pesantren yang aman dan nyaman tanpa perundungan untuk mewujudkan insan yang lebih berakhlakul karimah, berprestasi, dan bersemangat dalam menuntut ilmu.

*Parihani Hidayati, Siswi Kelas X, SMA Negeri 1, Cianjur, Jawa Barat.

DAFTAR PUSTAKA

Press, Uir. 2020. “Identifikasi Faktor Penyebab Perilaku Bullying di Pesantren”, https://journal.uir.ac.id/index.php/alhikmah/article/view/5212, diakses pada 11 November 2021 pukul 10.27.

Zulfahmi, 2012. “Fenomena Bullying di Pondok Pesantren”, http://eprints.umm.ac.id/30109/1/jiptummpp-gdl-zulfahmi07-31280-2-babi.pdf, diakses pada 7 November 2021 pukul 11.12.

Amri, Nasikhudin. 2019. “Perilaku Bullying di Pondok Pesantren Studi Fenomenologi Bullying di Asrama Al Risalah Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang”, http://digilib.uinsby.ac.id/34393/3/Nasikhudin%20Amri_J71215074.pdf, diakses pada 7 November 2021 pukul 12.45.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here