Ashil Dzahabi Ihsaniyah

M. Ilzamu Ilmi

Nurul Anzelina

Pesantren bukanlah sebuah lembaga yang tidak asing lagi dalam dunia pendidikan, melainkan sebuah lembaga yang dipercaya dapat memberikan pendidikan agama yang baik bagi peserta didiknya. Pondok pesantren dikenal sebagai suatu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia dan menjadi lembaga yang memiliki kontribusi penting dalam ikut serta mencerdaskan bangsa. Keberadaan pondok pesantren dengan segala aspek kehidupan dan perjuangannya memiliki nilai strategis dalam membina insan yang memiliki kualitas iman, ilmu dan amal.

Kedudukan pondok pesantren dalam sistem pendidikan Indonesia telah diatur dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 tentang pendidikan keagamaan pasal 30. Bahwa pondok pesantren merupakan salah satu bentuk dari pendidikan keagamaan yang diselenggarakan oleh pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan (ayat 1), serta dapat diselenggarakan pada jalur formal, nonformal dan informal (ayat 3). Sedangkan perbedaan sistem pendidikan pesantren dengan yang lainnya yaitu di pondok pesantren selama 24 jam para siswa/santri wajib tinggal di asrama.

Santri merupakan sebutan bagi peserta didik yang mengenyam pendidikan di kalangan pesantren. Dalam dunia luar pesantren, santri dikenal sebagai seseorang yang beradab dan berakhlak. Hal ini dikarenakan pengajaran dalam dunia pesantren bersandar pada ajaran agama yang kuat. Pesantren bukan hanya menjadi lembaga dalam bidang pendidikan. Akan tetapi, pesantren juga menjadi lingkungan dan tempat hidup bagi santrinya. 

Dilihat dari fungsinya, pesantren harusnya menjadi lingkungan yang memberikan rasa nyaman bagi penghuninya. Namun, kenyataannya tidak semua santri merasakan hal itu. Banyak sekali para santri yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di lingkungan pondoknya. Tidak jarang juga, ada beberapa santri yang mendapat perlakuan kurang baik oleh teman-temannya bahkan ada juga yang mendapat perlakuan kurang baik dari pengasuh dari pondok tersebut. 

Para santri umumnya didominasi oleh kaum remaja. Masa remaja merupakan masa badai dan stress yang penuh dengan konflik dan perubahan suasana hati. Konflik pada remaja muncul karena ketidakmampuan remaja untuk menghadapi dan menyelesaikan masalahnya sehingga akan menimbulkan dampak negatif. Hal ini, juga berlaku pada remaja yang tinggal di pondok pesantren karena berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, remaja membutuhkan proses adaptasi di lingkungan pesantren dan sistem belajarnya. Permasalahan lainnya, remaja yang tinggal di pondok pesantren merasa ada ketidakbebasan untuk menggali potensi diri dan rendah dalam menentukan pilihannya.

Akibat dari ketidakbebasan itu, muncul mindset yang mengakibatkan kurangnya pengetahuan yang berkaitan dengan dunia luar oleh santri di kalangan pesantren. Hal ini menyebabkan banyak penyimpangan yang dapat menimbulkan kekerasan di kalangan pesantren salah satunya adalah kekerasan seksual. Permasalahan seperti ini dapat menghadirkan stigma negatif terhadap pondok pesantren dikalangan masyarakat. Pondok pesantren yang awalnya dikenal dengan lembaga yang menjunjung tinggi perihal agama dapat tercoreng karena satu atau dua oknum saja yang tidak bisa mengontrol dirinya. Lantas, apakah solusi yang dapat dilakukan pondok pesantren untuk mengatasi masalah ini?

Kekerasan seksual di kalangan santri, solusinya?

Lembaga pendidikan pondok pesantren dinilai sebagai lembaga yang memprioritaskan agama dalam proses pembelajarannya. Agama memang menjadi hal yang sangat penting dipelajari sebagai pedoman dasar dalam berkehidupan. Namun, setidaknya sebuah pondok pesantren juga harus memikirkan pengetahuan santrinya dengan dunia luar. Pengetahuan terhadap dunia luar bagi kalangan santri akan berpengaruh terhadap kehidupannya agar nantinya tidak dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang ingin berbuat tidak baik kepadanya. Banyak orang beranggapan bahwa santri adalah pemuda yang polos dan lugu, mereka hanya tau agama saja. Keluguan mereka dapat dimanfaatkan oleh oknum yang ingin melakukan hal buruk, contohnya adalah kekerasan seksual. 

Kekerasan seksual dilakukan sepihak dan tidak diinginkan oleh orang yang menjadi korbannya. Pemahaman mengenai kekerasan seksual mencakup pada bentuk pelecehan seksual sampai memaksakan untuk melakukan hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau melakukan hubungan seksual dengan cara-cara tidak wajar dan tidak disukai korban. Kekerasan seksual terhadap seseorang akan berdampak panjang, di samping berdampak pada   masalah   kesehatan   di   kemudian   hari,   juga   berkaitan   dengan   trauma   yang berkepanjanggan  bahkan  hingga  dewasa,  dampak  trauma  akibat  kekerasan  seksual  yang dialami oleh anak-anak, antara lain pengkhianatan atau hilangnya kepercayaan anak terhadap orang  dewasa  trauma  secara  seksual,  merasa  tidak  berdaya.  Secara  fisik  memang  mungkin tidak  ada  hal  yang  harus  dipermasalahkan  pada  anak  yang  menjadi  korban  kekerasan seksual,   tapi   secara   psikis   bisa   menimbulkan   ketagihan, trauma,   bahkan   pelampiasan dendam  bila  tidak  ditangani  serius,  kekerasan  seksual  terhadap  anak  dapat  menimbulkan dampak sosial yang luas di masyarakat.

Faktor-faktor   atau   penyebab   terjadinya   suatu   tindak   pidana   pelecehan   seksual tersebut dengan posisi korban dalam hubungannya dengan pelaku, artinya korban dan pelaku sebelumnya sudah ada relasi lebih dahulu dalam ukuran intensitas tertentu antara korban dan pelaku.  Kalaupun  diantara  korban  dan  pelaku  tidak  ada  keterkaitan  dalam  hal  hubungan relasi  dengan  pelaku,  maka  presentase  terjadi  tindak  kejahatan  tersebut  cukup  kecil,  karena hubungan  horizontal pelaku dan korban telah  dimanfaatkan  oleh  pihak pelaku untuk bereksperimen   melakukan   dan   membenarkan   perbuatan   kontra   produktif   yang   dapat merugikan pihak korban, yang dalam hal ini adalah anak-anak.

Dikalangan pesantren, relasi yang ditimbulkan sangat erat. Apalagi antara pengasuh, kyai, guru, pegawai dan para santri tinggal di suatu kawasan yang sama. Hal ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kasus kekerasan seksual di kalangan pesantren marak terjadi. Kasus tersebut dapat terjadi karena pesantren belum menjadi ruang aman bagi para santrinya. Mengapa hal demikian bisa terjadi? Salah satu penyebab kasus ini dapat terjadi adalah karena kurangnya pengetahuan santri tentang bahaya sex dan pentingnya menjaga organ reproduksi. 

Dengan demikian, upaya pencegahan yang dapat dilakukan oleh pondok pesantren dalam mencegah santrinya mengalami kekerasan seksual adalah dengan menerapkan pendidikan kesehatan reproduksi di kalangan santri. Tujuan diadakannya pendidikan kesehatan reproduksi pada santri adalah memberikan pemahaman yang benar tentang kesehatan reproduksi karena pemahaman terhadap kesehatan reproduksi pada dasarnya memahami ajaran agama Islam, mampu mengantisipasi dampak buruk penyimpangan seksual, menjadi generasi yang sehat jasmani dan rohani. Selanjutnya memberikan informasi yang benar dan memadai kepada santri sesuai dengan kebutuhan untuk memasuki masa dewasa, menjauhkan para santri di lembah kemesuman, mengatasi problem seksual santri, dan agar para santri mengetahui batas-batas hubungan yang baik-buruk/ halal-haram dengan lawan jenis sesuai dengan hukum Islam.

Setiap santri mempunyai hak untuk mendapatkan akses dan informasi tentang kesehatan reproduksi berupa pendidikan reproduksi dan seks. Pendidikan seks tidak ditujukan untuk mengajarkan mereka tentang hubungan seks, namun memberi pengetahuan tentang upaya yang perlu mereka tempuh untuk menjaga kesehatan organ reproduksi. Kesehatan reproduksi bagi remaja berarti memiliki informasi yang benar dan tepat mengenai fungsi, peran, dan proses reproduksi. Pendidikan kesehatan reproduksi juga mengarahkan pada remaja untuk memiliki sikap serta tingkah laku bertanggung jawab mengenai proses reproduksi. prinsip dasar dalam mencapai kesehatan reproduksi secara fisik berkaitan dengan usaha menjaga kebersihan.

Akhir kata 

Kekerasan seksual di kalangan pesantren harus segera ditanggulangi agar para santri yang tinggal di lingkungan pesantren dapat dengan tenang mencari ilmu tanpa dihantui oleh kekhawatiran terhadap isu-isu kekerasan seksual yang ramai dibicarakan. Penanggulangan yang dapat dilakukan agar tidak kembali terjadi pelecehan seksual adalah para santri harus lebih menjaga dirinya dan tidak memberikan kesempatan atau ruang kepada setiap  orang  untuk  melakukan  kejahatan  pelecehan  seksual  terhadapnya.

Kesehatan reproduksi merupakan hal penting dalam kehidupan. Islam memeirntahkan semua umatnya untuk mencapai kebahagiaan hidup yang diawali dari kesehatan, baik kesehatan fisik, maupun non fisik, kesehatan jasmani maupun rohani. Persoalan kesehatan reproduksi biasanya terjadi pada usia awal, yaitu remaja. Masa ini menjadi masa yang beresiko pada masalah kesehatan reproduksi seperti seks bebas, aborsi, kekerasal seksual, hamil di luar pernikahan, bahkan sampai kematian ibu dan anak. Hal ini karena banyak anggapan bahwa mengetahui masalah seksualitas masih dianggap tabu dan jorok, maka para remaja membutuhkan Pendidikan dan informasi mengenai kesehatan reproduksi agar memiliki pengetahuan yang cukup mengenai reproduksi, bagaimana fungsi-fungsi organ bekerja, bagaimana kehamilan dan dampak yang ditimbulkannya.

Daftar Pustaka 

بیبیبیبیبیبیبی ثبثبثب, Herrera Marcano, T., Cachada, A., Rocha-santos, T., Duarte, A. C., & Roongtanakiat, N. (2009). No Titleبیبیب. ثبثبثب, ث ققثق(ثق ثقثقثق), ثقثقثقثق. https://doi.org/10.1038/132817a0

Ikromi, Z. A., Diponegoro, A. M., & Tentama, F. (2019). Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Subjective Well-Being pada Remaja yang Tinggal di Pondok Pesantren. Prosiding Seminar Nasional Magister Psikologi Universitas Ahmad Dahlan, 412–420.

 Zainuddin, D. Ridho. (2020). Kajian Kriminologi Atas Pelecehan Seksual Terhadap Santri yang Dilakukan Pekerja Dayah. Seminar Of Social Sciences Engineering & Humaniora, 1, 29-42Nurlaeli, H. (2020). Pentingnya Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas pada Remaja Santri Putri Pondok Pesantren Watu Ringkel Darussalam-Karangpucung. Jurnal Psikologi Perkembangan, 1(October 213), 1–224.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here