Aida Fitri Rio Utami

Kenakalan remaja adalah satu diantara masalah yang terus berlanjut dari tahun ke tahun, seperti yang diungkapkan Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi Badan Kordinasi Keluarga Berencana Pusat (BKKBN) M. Masri bahwa pada survei tahun 2008 terdapat 63 persen remaja di Indonesia usia sekolah SMP dan SMA sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah dan 21 persen diantaranya melakukan aborsi. 

Remaja adalah kelompok usia 13-18 tahun, dimana pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Seolah menjadi tantang bagi remaja yang baru mencari jati diri, awal dari kenakalan remaja adalah pergaulan bebas hingga berujung pada perilaku yang melanggar baik itu norma sosial dan agama. Berjudi, mabuk-mabukan, balapan motor sampai pacaran yang berujung pada perzinahan. Bahkan angka pernikahan dini disebabkan oleh kehamilan diluar nikah. 

Dalam Teori Konvergensi (Walgito,2004) menyatakan bahwa lingkungan sekitar mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan individu. Kenyataan yang banyak terjadi membenarkan teori ini. Seseorang yang tumbuh di lingkungan pedagang secara relatif akan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk menjadi pedagang. Demikian pula individu lain yang tumbuh di lingkungan petani, nelayan, wirausaha, guru, dan sebagainya. 

Senada dengan hal ini dalam dunia islam sudah lebih dahulu menjelaskan dalam hadits shahih yang berbunyi : 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Artinya : “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al ‘Ala` telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa radhiallahu’anhu, dari Nabi beliau bersabda, “Perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dengan pandai besi, bisa jadi penjual minyak wangi itu akan menghadiahkan kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapatkan bau wanginya sedangkan pandai besi hanya akan membakar bajumu atau kamu akan mendapatkan bau tidak sedapnya.”

Dalam hadits tersebut Nabi Muhammad saw memberikan perumpaan pandai besi dan penjual minyak wangi, hal ini memberikan tanda bahwa pergaulan antar teman adalah hal yang sangat berpengaruh terhadap kualitas keshalilahan seseorang. Selain itu faktor yang mempengaruhi tingkat keimanan seseorang ialah akhlak sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi : 

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَائِشَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيح

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Sulaiman dari Muhammad bin ‘Amr, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap para istrinya.” Abu Isa berkata, “Hadits semakna diriwayatkan dari Aisyah dan Ibnu Abbas.” Dia menambahkan, “Hadits Abu Hurairah merupakan hadits hasan sahih.”.

Sebagaimana pembahasan diatas setidaknya terdapat 2 hal utama yang saling berkaitan dalam terbentuknya akhlak yang baik. Pertama, ialah keilmuan, karena bagaimanapun akhlak baik tidak akan terwujud tanpa adanya ilmu, selain itu terdapat kewajiban menuntut ilmu untuk setiap muslim, berbagai akhlak baik diajarkan dalam islam diantaranya sifat jujur, lemah lembut, adil, sabar, malu. Kedua, ialah ruang pertemanan, lingkungan yang baik akan berpengaruh dalam pembentukan akhlak sebab itu menjaga diri dari pergaulan bebas dan memilih lingkungan pertemanan adalah sebuah keniscayaan di zaman modern yang penuh kebebasan. Relevansi diantara keilmuaan dan ruang lingkupnya tercipta secara komprehensif dalam bangunan pesantren. 

Mengapa pesantren? Tidaklah ciri khas yang menjadikan islam sebagai agama yang kuat dan diyakini kebenarannya ialah lewat tradisi sanad keilmuan. Sanad keilmuaan dalam islam dapat diartikan sebagai ketersambungan jalan ilmu. Dalam tradisi islam ilmu-ilmu yang sampai pada kita saat ini terjaga oleh para ulama yang ilmunya bersambung pada guru-guru diatasnya hingga sampai pada Rasulullah. Guru-guru yang mengajar di pesantren diisi oleh para ulama yang kualitas keilmuannya tentu tidak diragukan, selain itu berbagai macam peraturan yang ketat membentuk karakter hingga terbentuklah akhlak yang tertanam kuat dalam setiap diri santri. Selain itu kontrol sosial yang tercipta dari lingkungan pesantren tentu memberikan label positif dan beban sosial terhadap santri yang menuntut ilmu, seandainya terdapat santri yang melanggar nilai-nilai agama, citra pesantren sebagai wadah tentu dapat dipertanyakan. 

Peran guru yang mengawasi dan memberikan ilmu juga menjadi bagian dibalik suksesnya pengajaran para santri, hingga bisa mencetak para ulama dan pemimpin umat. Hal inilah yang belum dapat ditemui pada remaja yang bersekolah di luar pesantren. Umumnya remaja juga mendapatkan pembelajaran agama terlebih pembahasan akhlak. Sayangnya kontrol sosial dari lingkungan terlebih dari keluarga dekat cenderung lemah sehingga remaja yang berada dipuncak pencarian jati diri bisa berbuat salah dan melenceng dari nilai agama islam. Orang tua yang menjadi pionir utama dalam penanaman dan pembentukan karakter remaja sering kali juga terlalu sibuk bekerja, sehingga remaja di kota khususnya lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman. 

Jika pesantren dikatakan sebagai sebuah lingkungan yang sempurna tentu tidak dapat seratus persen benar karena di dalamnya tentu juga terdapat permasalahan beberapa diantaranya ialah perilaku menyimpang seksual diantara para santri, pencabulan/tindak kekerasan seksual, berutungnya ini hanyalah sebagian kecil dari banyaknya pesantren yang kualitasnya baik. Sepantasnya DNA/Asam deoksiribonuklat yang memiliki kemampuan mewariskan sifat dimiliki oleh para santri lewat darah mereka mengalir akhlak baik dari para ulama, jika para santri saja belum bisa mewariskan akhlak baik lantas kepada siapa umat memegang tali buhul agama?.

Daftar Pustaka

Santoso, Dadan Sumara, Sahadi Humaedi & Meilanny Budiarti. Kenakalan Remaja Dan Penanganannya, dalam jurnal Penelitian & PPM, Vol 4. No 02. 2017. 347. 

Ibrahim, Tya Sakdiah Putri, R lestari Garnasih & Restu. Pengaruh sosio demografi dan kemampuan terhadap minat berwirausaha, dalam jurnal Jom FEKON Vol. 1 No.2014. 3.  

https://www.google.com/amp/s/news.okezone.com/amp/2020/08/13/340/2261628/akibat-pergaulan-bebas-ratusan- remaja-terpaksa-menikah. Era Neizma Wedya. Diakses pada 10 oktober 2021.

* Aida Fitri Rio, mahasiswa UIN Antasari, Banjarmasin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here