Nindia Lutfiatun Nino

Indonesia, dekonstruksi keadilan gender dalam pondok pesantren masih menjadi isu sampai saat ini. Perlahan dekonstruksi keadilan gender mulai dihilangkan dan dapat menghasilkan kesejajaran antara perempuan dan laki-laki. Islam adalah agama yang diturukan Allah swt kepada Nabi Muhamad saw melalui Malaikat Jibril  dan sebagai agama penyempurna dari agama yang sebelum – sebelumnya. Kedatangan Islam membawa segala perubahan buruk menjadi baik. Agama Islam ada di bumi untuk membebaskan manusia dari  ketidakadilan yang harus dibenarkan. Islam merupakan agama pertama yang memberikan kebebasan bagi perempuan untuk berkiprah sesuai dengan kemampuannya tanpa membedakan antara perempuan atau laki-laki. Pondok Pesantren ialah tempat belajar mencari ilmu dan pelajaran yang dikhusukan lebih kepada kajian keIslaman. Berdirinya pondok pesantren yaitu untuk menyebarkan agama Islam tradisional yang didalamnya termuat kitab-kitab klasik yang telah ditulis  dari beberapa abad. Pondok pesantren menjadi pintu gerbang bagi semua santri untuk menjadi kiyai juga menjadi pintu terciptanya kitab – kitab klasik. Bukanlah keinginan setiap insan manusia yang dilahirkan  didunia menjadi perempuan atau laki-laki dan tanpa bisa memilih siapa nanti yang akan menjadi ibu atau ayah, melaikan itu semua kehendak dari Allah swt. Gender dapat diartikan sebagai pembeda antara perempuan  dan laki-laki yang dapat dilihat dari sisi nilai dan perilaku. Secara kodratnya benar terdapat perbedaan. Pembedaan antara perempuan  dan laki-laki yang dimaksud ini dalam aspek biologis. Pembedaan antara perempuan  dan laki-laki tidak bisa ditukar dan perbedaan ini dapat dikenali dari mulai manusia lahir. Perbedaan secara biologis antara perempuan dan laki-laki hanya digunakan untuk menentukan dalam relasi gender, seperti pembagian status, fungsi, hak-hak, dan peran dimasyarakat. Jangan menjadikan perbedaan perempuan dan laki-laki  sebagai diskriminasi partisipasi, gerak, ruang dan waktu. Peran perempuan dan laki-laki yang dikonstruksikan dalam pondok pesantren. Pondok pesantren yang khusus perempuan secara garis besar untuk mempersiapkan bagi masa depan para perempuan yang mampu menjadi seorang ibu menciptakan perempuan yang mandiri, ahli ngaji, terampil dalam berbagai pekerjaan rumah tangga, dan pandai  mengurus anak dan pandai melayani suami dengan baik. Kelahiran anak perempuan pada zaman jahiliyah tidak dapat diterima sepenuh hati oleh masyarakat Arab sampai yang paling parah yaitu masyarakat Arab rela membunuh darah daging mereka yang terlahir perempuan. Karena mereka merasa malu mempunyai anak perempuan karena masyarakat arab beranggapan bahwa perempuan tidak akan memiliki hak warisan. Perempuan tidak pernah mendapatkan kebebasan untuk memiliki hak-haknya, antara lain menjadikan perempuan miskin dengan cara menjauhkan perempuan dari aktivitas publik yang dapat membuatnya berkembang. Kedudukan perempuan dijadikan lebih rendah dari pada kedudukan laki-laki, perempuan dianggap sebagai makhluk sumber maksiat, sehingga apabila terjadi kekerasan seksual  atau pelecehan, perempuan yang seharusnya menjadi korban malah dianggap sebagai penyebab terjadinya tindak kejahatan oleh laki-laki.

Telah dijelaskan didalam Al- Qur’an tentang ukuran yang digunakan sebagai pedoman dalam menilai keadilan gender antara perempuan  dan laki-laki. 

  1. Perempuan dan laki-laki sebagai hamba allah, yang sebagai pembeda adalah tingkatan taqwa. Tujuan dicipatkannya manusia untuk menyembah kepada Allah swt. Ada di Qur’an Surat Az-Zariyat (51): 56
  2. Perempuan dan laki-laki diciptakan sebagai pemimpin (kholifah) di Bumi. Ada di Qur’an Surat  Al-An’am (6): 165
  3. Perempuan  dan laki-laki bersepakat bahwa ada keberadaan Allah swt. Ada di Qur’an Surat  Al-A’raf (7): 172.
  4. Perempuan  dan laki-laki sebagai hamba yang mempunyai tanggung jawab sama. Ada di Qur’an Surat Al-Baqarah (2): 35
  5. Perempuan  dan laki-laki sebagai hamba  yang sama untuk berpotensi meraih prestasi. Ada di Qur’an Surat Ali Imran (3): 195

Kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki masih sering menjadi problem dikalangan pondok pesantren. Hal tersebut anggapan bahwa gender merupakan produk dari Barat dengan pandangan hidup sekular-liberal yang telah  berkembang dan tidak sesuai dengan ajaran syari’at Islam. Islam ialah agama yang rahmatan lil-alamin, rahmat bagi perempuan sehingga dapat terpenuhi hak – haknya. Islam memberikan apresiasi tinggi kepada perempuan. Dalam Islam juga tidak mengutamakan jenis kelamin, suku, bangsa. Al – Qur’an Surat Al-Hujarat: 13. Pada ayat ini Allah swt menegaskan bahwa perempuan  dan laki-laki memiliki kedudukan yang sama di sisi Allah swt dan yang membedakan antara perempuan  dan laki-laki hanyalah tentang ketaqwaannya. Di zaman Rasulullah saw, Rasulullah saw memberikan hak yang sama untuk perempuan saat terjadi bai’ah aqabah dan  banyak sekali ditemukan perempuan yang berprestasi cemerlang layaknya seorang laki- laki dalam bidang ekonomi, politik, dan berbagai pekerjaan lainnya. Keadilan memberikan bobot yang sama antara hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki sehinga tidak menjadikan perempuan yang merasa lebih rendah dibawah kekuasaan laki-laki. Menjadikan laki – laki tidak berbuat seperti penguasa yang mempunyai hak penuh untuk menguasai perempuan. Agama Islam menempatkan mereka pada tempatnya sehingga perempuan dan laki-laki diberikan tanggung jawab  dan hak yang sesuai porsi masing -masing. Agama Islam menempatkan mereka pada tempatnya

* Nindia Lutfiatun Nino, Mahasiswa Prodi Tadris Matematika,Institut Agama Islam Negeri Kudus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here